BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam era Globalisasi sekarang ini, setiap perusahaan harus mampu bersaing bila tidak ingin tertinggal dari perusahaan lain. Setiap perusahaan didirikan dengan harapan akan menghasilkan profit sehingga mampu untuk bertahan dalam jangka panjang yang tak terbatas. Hal ini dapat diasumsikan bahwa perusahaan akan terus hidup dan diharapkan tidak akan mengalami likuidasi. Dalam praktek, asumsi seperti diatas tidak selalu menjadi kenyataan. Seringkali perusahaan yang telah beroperasi dalam jangka waktu tertentu terpaksa membubarkan diri karena mengalami kegagalan usaha. Persaingan yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk selalu memperkuat fundamental manajemen perusahaannya. Ketidakmampuan mengantisipasi perkembangan global dengan memperkuat fundamental manajemen akan mengakibatkan pengecilan dalam volume usaha sebuah perusahaan, akibatnya kinerja perusahhan pun semakin menurun. Menurunnya kinerja keuangan perusahaan yang terus menerus akan berujung pada kebangkrutan.
Kebangkrutan adalah suatu proses yang dilakukan oleh seorang debitur dengan mengisi suatu petisi yang menyatakan bahwa ia tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajiban atau hutang-hutangnya dan bersedia dinyatakan bangkrut (A. Abdurrachman, 1991:89). Analisis kebangkrutan dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan. Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan tersebut, semakin baik bagi pihak manajemen karena pihak manajemen bisa melakukan perbaikan-perbaikan (Mamdur dan Halim,1996:263).
Informasi kebangkrutan suatu perusahaan sangat penting bagi investor dan kreditor sebagai pihak yang berada di luar perusahaan untuk mengamankan investasi yang telah dilakukan. Bagi pihak perusahaan dapat digunakan untuk melihat kinerja keuangannya dan jika terdapat tanda-tanda kesulitan keuangan yang mengarah pada kebangkrutan, pihak manajemen dapat mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan perusahaan, bagi pihak kreditor dapat dimanfaatkan sebagai alternatif analisis dalam pengambilan keputusan dapat tidaknya suatu perusahaan menerima kredit, bagi investor dapat dijadikan sebagai tambahan pertimbangan dalam melakukan keputusan investasi (Aulia, 2003).
Analisis rasio merupakan analis yang sering digunakan dalam menilai kinerja keuangan perusahaan. Salah satu sumber utamanya adalah dengan melihat laporan keuangan perusahaan, yaitu neraca dan laporan laba rugi. Untuk mengatasi kekurangan dari analisis rasio dapat dipergunakan alat analisis yang menghubungkan beberapa rasio sekaligus untuk menilai kondisi keuangan perusahaan. Analisis ini dikenal dengan nama analisis diskriminan Altman Z-score (Agnes Sawir, 2001:22).
Z-score pertama kali diperkenalkan pada pertengahan tahun 1960 oleh Edward I. Altman seorang ahli ekonomi dan keuangan serta profesor di Universitas New York’s Stern School of Business yang dikembangkan untuk menentukan kecenderungan kebangkrutan perusahaan dan dapat juga digunakan sebagai ukuran dari keseluruhan kinerja keuangan. Edward Altman melakukan penelitian terhadap kinerja keuangan perusahaan yang mengalami kebangkrutan dan kinerja keuangan yang sehat (Edward Altman, 1983:99). Dalam studinya, setelah menyeleksi 22 laporan keuangan, Altman menemukan 5 rasio yang dapat dikombinasikan untuk melihat perbedaan antara perusahaan yang bangkrut dan tidak bangkrut. Lima rasio Z-score tersebut adalah Working Capital to Total Assets Rasio, Retained Earning to Total Assets Ratio, Earning Before Interest and Taxes to total Assets Ratio, Market Value of Equity to Book Value of Total Liabilities Ratio, Sales to Total (Edward Altman, 1983:106).
Setelah mengamati masalah-masalah yang ada di atas serta didasari berbagai pertimbangan, maka dalam penuliasan ilmiah ini penulis mengambil judul “ ANALISIS ALTMAN (Z-SCORE) DALAM MEMPREDIKSI POTENSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN PADA PT ADHI KARYA, TBK. PERIODE 2005-2009”.
1.2 Rumusan dan Batasan Masalah
1.2.1 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, terindentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana menilai rasio kebangkrutan pada PT Adhi Karya, Tbk. selama kurun waktu 2005-2009 menggunakan indikator:
a. Working Capital to Total Assets Ratio?
b. Retained Earning to Total Assets Ratio?
c. Earning Before Interest and Taxes to Total Assets Ratio?
d. Market Value of Equity to Book Value to Total Liabilities Ratio?
e. Sales to Total Assets Ratio?
2. Bagaimana menganalisa rasio diatas menggunakan alat bantu rasio Z-score selama kurun waktu 2005-2009 untuk menilai potensi kebangkrutan PT Adhi Karya, Tbk?
1.2.2 Batasan Masalah
Agar permasalahan yang di teliti tidak terlalu luas, maka dalam penelitian ini penulis membatasi masalah hanya pada:
a. Neraca dan laporan laba rugi PT Adhi Karya, Tbk periode 2005-2009.
b. Analisis potensi kebangkrutan menggunakan indikator rasio Z-score.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui perhitungan rasio kebangkrutan perusahaan pada PT Adhi Karya, Tbk periode 2005-2009 .
2.Untuk mengetahui perubahan rasio Z-score menggunakan parameter:
a. Working Capital to Total Assets Ratio
b. Retained Earning to Total Assets Ratio
c. Earning Before Interest and Taxes to Total Assets Ratio
d. Market Value of Equity to Book Value to Total Liabilities Ratio
e. Sales to Total Assets Ratio
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi Peneliti
Hasil penelitian dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dalam bidang analisa laporan keuangan, khususnya mengenai analisis diskriminan Altman Z-score dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan.
2. Bagi Perusahaan
Pihak manajemen dapat memanfaatkan hasil penelitian sebagai bahan masukan dalam mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan, menilai tingkat kesehatan usaha serta sebagai acuan dalam pengambilan keputusan.
3. Bagi Investor
Penelitian ini dapat menjadi bahan oertimbangan bagi para investor dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi.
1.5 Metode Penelitian
1.5.1 Objek Penelitian
Pada penulisan ilmiah ini yang menjadi objek penelitian adalah laporan keuangan yang terduru dari neraca dan laporan laba rugi pada PT Adhi Karya, Tbk yang berlokasi di Jl. Raya Pasar Minggu KM.18, Jakarta 12510.
1.5.2 Data/Variabel
Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah laporan keuangan PT Adhi Karya, Tbk. berupa neraca dan laporan laba rugi periode 2005-2009. Selain itu data yang digunakan adalah nilai harga pasar per lembar saham periode 2005-2009.
1.5.3 Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data tersebut, penulis menggunakan metode sebagai berikut:
1. Metode Studi Pustaka
Mendalami serta memahami materi dan teori yang berhubungan dengan pembahasan analisis tingkat kesehatan dan model Altman, dengan maksud mencari teori-teori serta konsep-konsep yang dapat dijadikan landasan teori dalam mendukung penelitian ilmiah ini.
2. Metode Studi Lapangan
Berupa data sekunder yaitu laporan keuangan (neraca dan laporan laba rugi) PT Adhi Karya, Tbk. periode 2005-2009, serta nilai harga pasar per lembar saham tahun 2005-2009 yang diperoleh dari internet.
1.5.4 Alat Analisis yang Digunakan
1. Analisis Deskriptif
Analisis yang dilakukan adalah analisis deskriptif, karena penulis menggunakan tabel dan grafik untu memperjelas pembahasan pada penelitian ilmia ini.
2. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif yang digunakan pada penulisa ilmia ini adalah analisis Altman Z-score dengan rasio lima variabel, untuk perusahaan manufaktur yang go public dengan menggunakan formula:
Z = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,64 X4 + 1,0 X5
1.5.5 Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan ilmiah terdiri dari:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan dikemukakan latar belakang masalah, rumusan dan pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Dalam bab ini akan dikemukakan landasan teori yang berkaitan dengan penelitian dan review penelitian terdahulu yang berhubungan dengan permasalahan yang ada dalam penelitian ini dan konsep yang akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan masalah dan pemecahannya.
BAB III METODE PENELITIAN
Dalam bab ini akan dikemukakan objek penelitian, data/variabel yang digunakan, metode pengumpulan data/variabel, dan alat analisis yang digunakan.
BAB IV PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan dibahas mengenai profil objek penelitian, dan hasil penelitian serta analisis/pembahasan.
BAB V PENUTUP
Dalam bab ini akan dikemukakan kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kerangka Teori
2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah hasil akhir proses akuntansi, setiap transaksi yang dapat diukur dengan nilai uang, dicatat dan diolah sedemikian rupa dan disajikan dalam nilai uang ( Agnes Sawir,2001:2).
Laporan keuangan merupakan kombinasi dari data keuangan suatu perusahaan yang menggambarkan kemajuan suatu perusahaan yang dibuat secara periodik. Secara umum laporan keuangan dapat diartikan sebagai hasil akhir dari proses akuntansi , berisi ringkasan dari suatu proses pencatatan yang terdiri dari daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi-laba serta mencerminkan hasil yang dicapai selama suatu periode tertentu.
2.1.2 Macam-Macam Laporan Keuangan
Laporan keuangan perusahaan yang paling utama terdiri dari:
1. Neraca, adalah gambaran kondisi keuangan pada akhir periode akuntansi, biasanya tanggal 31 Desember. Kondisi keuangan dalam neraca pada dasarnya terdiri dari aktiva (asset), kewajiban (liability), dan modal (capital).
2. Laporan Laba Rugi, merupakan ikhtisar yang disusun secara sistematis tentang penghasilan, biaya rugi laba yang diperoleh suatu perusahaan selama periode tertentu.
3. Laporan Arus Kas adalah menyediakan informasi arus kas masukdan arus kas keluar untuk satu periode (John J. Wild,dkk,2005)
4. Laporan Keuangan Gabungan dan Konsolidasi
Laporan Keuangan gabugan merupakan laporan dari seluruh cabang-cabang perusahaan yang bersangkutan baik yang ada di dalam negri maupun diluar negri. Laporan Konsolidasi merupakan laporan perusahaan yang bersangkutan dengan anak perusahaannya.
2.1.3 Tujuan Laporan Keuangan
Pelaporan keuangan menyediakan informasi yang berguna dalam membuat keputusan bisnis dan ekonomi. Financial Accounting Standart Board, dalam kerangka kerja konseptualnya mengenai proyek akuntansi mengidentifikasikan tujuan utama dari pe;aporan keuangan (Charles J. Woelfel, 1995). Tujuan itu dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Laporan keuangan harus menyediakan informasi yang berguna kepada investor dan kreditor serta pemakai lainnya dalam membuat keputusan yang rasional mengenai investasi, kredit, dan keputusan-keputusan lain yang sejenis.
2. Laporan keuangan harus menyediakan informasi yang berguna kepada investor dan kreditor serta pemakai lainnya dalm menentukan jumlah, waktu dan ketidakpastian mengenai penerimaan kas yang diharapkan dari deviden atau bunga dan keuntunga yang diperoleh dari penjualan maupun dari surat berharga atau pinjaman yang jatuh tempo.
3. Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi mengenai sumber daya ekonomis suatu perusahaan, hak kepemilikan atas sumber daya tersebut.
2.1.4 Pihak-Pihak yang Berkepentingan Terhadap Laporan Kuangan
Laporan keuangan mempunyai arti yang sangat penting bagi pihak yang membutuhkan atau yang berkepentingan, pihak-pihak yang membutuhkan antara lain:
1. Investor atau Pemilik
Pemilik perusahaan menanggung resiko atas harta yang ditempatkan atas perusahaan. Pemilik membutuhkan informasi untuk menilai apakah perusahaan memiliki kemampuan membayar deviden. Disamping itu untuk menilai apakah investasinya akan tetap dipertahankan atau dijual.
2. Pemberi Pinjaman (Kreditor)
Pemberi pinjaman membutuhkan informasi keuangan guna memutuskan memberi pinjaman dan kemampuan membayar angsuran pokok dan bunga saat jatuh tempo.
3. Karyawan
Karyawan dan serikat buruh memerlukan informasi keuangan guna menilai kemampuan perusahaan untuk mendatangkan laba dan stabilitas usahanya.
4. Pemerintah
Informasi keuangan bagi pemeintah digunakan untuk menentukan kebijakan dalam bidang ekonomi, misalnya alokasi sumber daya, pajak, pungutan, UMR, pungutan serta bantuan.
5. Masyarakat
Laporan keuangan dapat digunakan untuk bahan ajar, dan analisis.
2.1.5 Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan merupakan salah satu alat analisis kinerja keuangan, analisis rasio adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja perusahaan. Penggolongan rasio keuangan adalah sebagai berikut:
1. Rasio likuiditas adalah rasio yang dimaksudkan untuk mengukur likuiditas perusahaan misalnya current ratio, acid test ratio, cash ratio, working capital to total asset ratio.
2. Rasio laverage adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang, misalnya total debt to total asset ratio, total debt to total capital asset, long debt to equity ratio, tangible asset debt coverage, time interest earned ratio.
3. Rasio aktivitas adalah rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa besar efektivitas perusahaan dalam mengerjakan sumber-sumber dayanya, misalnya total asset turnover, receivable urnover, average collection period, inventory turnover, average days iventory, working capital turnover.
4. Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Yang termasuk dalam rasio atau profitabilitas diantaranya gross profit, net profit margin.
2.1.6 Kebangkrutan
Kebangkrutan perusahaan banyak membawa dampak yang begitu berarti, bukan untuk perusahaan itu sendiri tapi juga karyawan, investor, dan phak-pihak lain yang terlibat dalam kegiatan operasional perusahaan.
Kebangkrutan adalah situasi dimana kwajiban perusahaan lebih tinggi daripada nilai aktivanya. Kesulitan keuangan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan (Darsono dan Ashari, 2005:101).
2.1.7 Faktor-Faktor Penyebab Kebangkrutan
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari bagian dalam manajemen perusahaan, diantaranya:
a. Manajemen yang tidak efisien akan mengakibatkan kerugian terus menerus yang akhirnya menyebabkan perusahaan tidak dapat membayar kewajibannya.
b. Ketidakseimbangan dalam modal yang dimiliki dengan jumlah piutang-hutang yang dimiliki. Hutang yang terlalu besar akan mengakibatkan biaya bunga yang besar sehingga memperkecil laba dan menyebabkan kerugian. Piutang yang terlalu besar juga mengakibatkan kerugian karena aktiva yang menganggur terlalu banyak sehingga tidak menghasilkan pendapatan.
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari bagian luar manajemen perusahaan, diantaranya:
a. Kesulitan bahan baku karena suplier tidak dapat memasok lagi kebutuhan bahan baku yang digunakanuntuk produksi.
b. Hubungan yang tidak harmonis dengan kreditor juga bisa berakibat fatal bagi kelangsungan hidup perusahaan.
c. Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan agar selalu memperbaiki diri sehingga bisa bersaing dengan perusahaan lain dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.
2.1.8 Pihak-Pihak yang Memanfaatkan Informasi Kebangkrutan
Banyak pihak yang berkepentingan dengan informasi kesulitan keuangan yang dialami oleh perusahaan. Pihak-pihak yang memanfaatkan informasi keuangan di bagi menjadi dua, yaitu:
1. Pihak Internal, yaitu manajemen berkepentingan terhadap pengelolaan perusahaan, karyawan berkepentingan dengan kelangsungan hidup perusahaan.
2. Pihak Eksternal, yaitu kreditor berkepentingan dengan kemampuan perusahaan dalam membayar hutangnya, investor berkepentingan dengan investasi yang dilakukan.
2.1.9 Metode Altman Z-Score
Pada pertengahan tahun 1960, Edward I. Altman di New York melakukan analisis diskriminan untuk menyusun suatu model perhitungan guna memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan. Dalam studinya, setelah menyeleksi 22 rasio keuangan, Altman menemukan lima rasio yang dapat dikombinaasikan untuk melihat perbedaan antara perusahaan yang bangkrut dan perusahaan yang sehat. Analisis ini dikenal dengan nama analisis Altman Z-score. Lima rasio Z-score tersebut adalah Working Capital to Total Assets Ratio, Retained Earning to Total Assets Ratio, Earning Before Interest and Taxes to Total Assets Ratio, Market Value of Equity to Book Value of Total Liabilities Ratio, Sales to Total Assets (Edward Altman, 1983:106).
2.1.10 Kegunaan Analisis A-Score
Analisis Z-score berfungsi untuk menganalisa potensi kebangkrutan suatu perusahaan, karena dari skor yang dihasilkan dapat diketahui apakah suatu perusahaaan dalm kondisi keuangan yang sehat, atau dalam kondisi yang menunjukantanda-tanda kebangkrutan, atau mungkin kondisi keuangan perusahaan dalm kondisi terpuruk yaitu kebangkrutan. Hasil perhitungan analisis ini dapat dimanfaatkan oleh pihak manajemen perusahaan untuk mempertahankan atau meningkatkan kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Sedangkan bagi pihak kreditur dan para investor dapat menggunakan hasil analisis tersebut untuk melakukan persiapan-persiapan untuk mengatasi kemungkinan buruk yang akan terjadi. Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan diketahui, semakin baik untuk pihak-pihak yang terkait dalam perusahaan.
2.1.11 Perhitungan Analisis Z-Score
Perhitungan analisis Z-Score terdiri atas tiga versi, versi pertama analisis pada perusahaan manufaktur yang telah go publik, versi ke dua pada perusahaan manufaktur yang belum go publik, dan terakhir pada perusahaan non manufaktur. Selanjutnya akan dijelaskan lebih terperinci untuk masing-masing versi.
I. Versi Z-score untuk perusahaan manufaktur yang telah go publik (Public Manufakturing)
Fungsi diskriminan yang diturunkan Altman adalah:
Z = 1.2X1 + 1.4X2 + 3.3X3 + 0.6X4 + 1.0X5
Keterangan:
Z : Overall Indeks (Indeks Keseluruhan)
X1 : Working Capital to Total Assets Ratio (Modal Kerja/Total Aktiva)
X2 : Rentained Earnings in Total Assets (Laba Ditahan/Total Aktiva)
X3 : Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aktiva)
X4: Market Value of Equity to Book Value of Liabilities (Nilai Pasar Modal Sendiri/Nilai Buku Hutang)
X5 : Sales to Total Assets (Penjualan/Total Aktiva)
II. Versi Z-score untuk perusahaan manufaktur yang belum go publik (Privately Manufakturing)
Mengingat bahwa tidak semua perusahaan melakukan go public dan tidak memiliki nilai pasar, maka Altman mengembangkan metode alternatifdengan menggantikan variabel X4 (Nilai Pasar Modal Sendiri/Nilai Buku Hutang) menjadi (Nilai Buku Saham/Nilai Buku Hutang).
Formula perhitungannya sebagai berikut:
Z = 0,717 X1 + 0,847 X2 + 3,107 X3 + 0,420 X4 + 0,998 X5
Keterangan:
Z : Overall Indeks (Indeks Keseluruhan)
X1 : Working Capital to Total Assets Ratio (Modal Kerja/Total Aktiva)
X2 : Rentained Earnings in Total Assets (Laba Ditahan/Total Aktiva)
X3 : Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aktiva)
X4: Book Value of Equity to Book Value of Liabilities (Nilai Buku Modal Sendiri/Nilai Buku Hutang)
X5 : Sales to Total Assets (Penjualan/Total Aktiva)
III. Versi Z-Score untuk non manufakturingyang sudah go public maupun yang belum go public (Public or Private Non Manufacturing)
Persamaan yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Z = 6,56 x1 + 3.26 X2 + 6,72 X3 + 1,05 X4
Keterangan:
Z : Overall Indeks (Indeks Keseluruhan)
X1 : Working Capital to Total Assets Ratio (Modal Kerja/Total Aktiva)
X2 : Rentained Earnings in Total Assets (Laba Ditahan/Total Aktiva)
X3 : Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aktiva)
X4: Book Value of Equity to Book Value of Liabilities (Nilai Modal Sendiri/Nilai Buku Hutang)
Tabel 1
Standar Z-Score Altman
(Titik Cut-Off)
JENIS PERUSAHAAN TITIK CUT-OFF KETERANGAN
Manufaktur yang telah go publik
z-score < 1,10
1.10 < z score < 2.60
2.60 < z score Menunjukan indikasi perusahaan
menghadapi ancaman kebangkrutan
yang serius.
Menunjukan bahwa perusahaan barada dalam kondisi rawan. Dalam kondisi ini manajemen harus hati-hati mengelola aset-aset perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan (Grey Area).
Menunjukan perusahaan dalam
kondisi keuangan yang sehat dan
tidak mempunyai masalah keuangan.
Manufaktur yang belum go publik z score < 1.20
1.20 < z score< 2.90
2.90 < z score Menunjukan indikasi perusahaan
menghadapi ancaman kebnagkrutan
yang serius, hal ini harus perlu
ditindak lanjuti agar tidak terjadi
kebangkrutan.
Menunjukan bahwa perusahaan barada dalam kondisi rawan. Dalam kondisi ini manajemen harus hati-hati mengelola aset-aset perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan (Grey Area)
Menunjukan perusahaan dalam
kondisi keuangan yang sehat dan
tidak mempunyai masalahan keuangan (non-bankrupt company)
Non manufaktur baik
yang go publik ataupun
yang belum go publik z score < 1.10
1.10 < z score < 2.60
2.60 < z score Menunjukan indikasi perusahaan
mengahadapi ancaman
kebangkrutan yang serius.
Menunjukan bahwa perusahaan barada dalam kondisi rawan. Dalam kondisi ini manajemen harus hati-hati mengelola aset-aset perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan (Grey Area)
Menunjukan perusahaan dalam
kondisi keuangan yang sehat dan
tidak mempunyai permasalahan
dengan keuangan. (non-bankrupt company)
2.1.12 Rasio-Rasio Lima Variabel Z-Score
Menurut Altman ada lima rasio yang dapat dikombinasikan untuk melihat perbedaan antara sehat atau tidak. Rasio tersebut dikenal dengan nama rasio lima variabel.
1. Working Capital to Total Assets Ratio
Modal Kerja
X1 =
Total Aktiva
Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan modal kerja bersih dari keseluruhan total aktiva yang dimilikinya.
2. Retained Earning in Total Asset Ratio
Laba yang Ditahan
X2 =
Total Aktiva
Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba ditahan dari total aktiva perusahaan. Laba ditahan merupakan laba yang tidak dibagikan kepada para pemegang saham.
3. Earning Before Interest and Taxes to Total Assets Ratio
EBIT
X3 =
Total Aktiva
Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva perusahaan, sebelum pembayaran bunga dan pajak.
4. Market Value of Equity to Book Value of Liabilities Ratio
Nilai Pasar Modal Sendiri
X4 =
Total Hutang
Rasio ini menunjukan kemapuan perusahaan untuk memenuhi kewajibankewajiban dari nilai pasar modal sendiri (saham biasa). Nilai pasar modal sendiri diperoleh dengan mengalikan jumlah lembar saham biasa yang beredar dengan harga pasar per lembar saham biasa. Nilai buku hutang diperoleh dengan menjumlahkan kewajiban lancar dan kewajiban jangka panjang.
5. Sales to Total Assets Ratio
Penjualan
X5 =
Total Aktiva
Rasio ini menunjukan tingkat perputaran total aktiva dalam satu tahun. Rasio ini mencerminkan efisiensi manajemen dalam menggunakan keseluruhan aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan dan mendapatkan laba.
2.1.13 Rating Ekuivalen Perusahaan
Metode Altman Z-Score menciptakan model emerging market scoring (EMS), suatu penilaian pasar dengan menggunakan rating untuk menentukan perushaan yang berada dalam kondisi sehat atau memiliki masalah keuangan.
Tabel 2
Rating Ekuivalen Perusahaan Terhadap Nilai Rata-Rata EMS
US Equivalent Rating Average Em Score
AAA 8,15
AA+ 7,60
AA 7,30
AA- 7,00
A+ 6,85
A 6,65
A- 6,40
BBB+ 6,25
BBB 5,85
BBB- 5,65
BB+ 5,25
BB 4,95
BB- 4,75
B+ 4,50
B 4,15
B- 3,75
CCC+ 3,20
CCC 2,50
CCC- 1,75
D 0
2.1.14 Kelebihan dan Kekurangan Analisis Z-Score
Kelebihan analisis Z-Score adalah dapat mengkombinasikan beberapa rasio menjadi suatu model prediksi, yaitu rasio yang di uji tidak terpisah dan menjadi satu kesatuan sehingga dapat melihat skor perusahaan tersebut secara keseluruhan, atau dapat disebut juga analisis multivariate. Selain itu Z-score dapat digunakan untuk seluruh perusahaan, baik perusahaan go publik, pribadi atau perusahaan jasa dalam berbagai ukuran.
Kelemahan Z-Score model Altman ini terletak pada penggunaan rasio EBIT. Laporan keuangan antara perusahaan satu dengan perusahaan lainnya berbeda, sehingga EBIT sulit diterapkan. Kelemahan lain Z-Sore adalah tidak ada rentang waktu yang pasti kapan kebangkrutan akan terjadi setelah hasil Z-Score diketahui lebih rendah dari standar yang ditetapkan.
2.2 Kajian Penelitian Sejenis
Dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dengan judul “Analisis Diskriminan Model Altman Z-Score dalam Memprediksi Potensi Kebangkrutan Perusahaan Pada PT Ramayana Lestari Sentosa,Tbk. periode 2004-2008” (Mirra Permanasari, 2009) diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Perubahan rasio empat variabel PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. selama periode 2004-2009 menunjukan hasil sebagai berikut:
a. Working Capital to Total Assets Ratio ( Rasiio modal kerja terhadap total aktiva) menunjukan angka sebesar 0,334 pada tahun 2004, 0,364 pada tahun 2005, 0,405 pada tahun 2006, 0,405 pada tahun 2007 dan 0,378 pada tahun 2008.
b. Retained Earning in Total Assets Ratio (Rasio laba ditahan terhadap total aktiva), menunjukan angka sebesar 0,483 pada tahun 2004, 0,567 pada tahun 2005, 0,587 pada tahun 2006, 0,581 pada tahun 2007 dan 0,483 pada tahun 2008.
c. Earning Before Interest and Taxes to Total Assets Ratio (Rasio laba sebelum bunga dan pajak terhadap total aktiva), menunjukan angka sebesar 0,162 pada tahun 2004, 0,168 pada tahun 2005, 0,158 pada tahun 2006, 0,160 pada tahun 2007 dan 0, 173 pada tahun 2008.
d. Market Value of Equity to Book Value of Liabilities Ratio (Rasio nilai pasar modal sendiri terhadap total kewajiban), menunjukan angka sebesar 6,014 pada tahun 2004, 9,90 pada tahun 2005, 10,553 pada tahun 2006, 7,864 pada tahun 2007 dan 5,22 pada tahun 2008.
2. Nilai Overall Indeks yang dihasilkan PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. selama periode 2004-2008 menunjukan nilai di atas cutt-of Altman 2,60 yang berada pada posisi Non Bankcrupt Company dan selalu mendapat rating EMS yaitu AAA. Ini menunjukan bahwa PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. tidak memiliki potensi kebangkrutan atau dengan kata lain dinyatakan sehat.
1.3 Alat Analisis
Penerapan metode Altman Z-Score pada perusahaan manufaktur yang telah go publik yang akan diteliti oleh penulis menggunakan persamaan sebagai berikut:
Z = 1.2X1 + 1.4X2 + 3.3X3 + 0.6X4 + 1.0X5
Keterangan:
Z : Overall Indeks (Indeks Keseluruhan)
X1 : Working Capital to Total Assets Ratio (Modal Kerja/Total Aktiva)
X2 : Rentained Earnings in Total Assets (Laba Ditahan/Total Aktiva)
X3 : Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aktiva)
X4: Market Value of Equity to Book Value of Liabilities (Nilai Pasar Modal Sendiri/Nilai Buku Hutang)
X5 : Sales to Total Assets (Penjualan/Total Aktiva)
Dengan nilai Cutt-off
Z < 1,0 : Menunjukan indikasi perusahaan menghadapi ancaman kebangkrutanyang serius.
1,10 < 2.60 : Menunjukan bahwa perusahaan barada dalam kondisi rawan. Dalam kondisi ini manajemen harus hati-hati mengelola aset-aset perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan (Grey Area).
Z > 2,60 : Menunjukan perusahaan dalam kondisi keuangan yang sehat dan tidak mempunyai permasalahan dengan keuangan (Non-bankcrupt company).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Pada penulisan ilmiah ini yang menjadi objek penelitian adalah PT Adhi Karya, Perusahaan berkedudukan di Jl. Raya Pasar Minggu KM.18, Jakarta 12510.
3.2 Data / Variabel yang Digunakan
Data yang digunakan dalam penelitian ilmiah ini adalah data sekunder, berupa laporan keuangan PT Adhi Karya Tbk, yaitu neraca dan laporan laba rugi serta nilai harga pasar per lembar.
3.3 Metode Pengumpulan Data / Variabel
Untuk memperoleh data tersebut, penulis menggunakan metode sebagai berikut:
1. Metode Studi Lapangan
Dalam memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan penulisan ilmiah ini, penulis menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan yaitu berupa neraca dan laporran laba-rugi, selain itu data sekunder berupa nilai harga pasar per lembar saham, dimana data ini diperoleh dari internet.
2. Studi Pustaka
Penulis melakukan pengumpulan data dengan cara membaca dan mempelajari buku yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas sebagai bahan dalam penulisan ilmiah.
3.4 Alat Analisis yang Dugunakan
1. Analisis Deskriptif
Analisis yang dilakukan adalah analisis deskriptif, karena penulis menggunakan tabel untuk memperjelas pembahasan pada penelitian ilmiah ini.
2. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif yang digunakan pada penulisan ilmiah ini adalah analisis Altman Z-score dengan rasio 5 variabel. Untuk menerapkan metode Altman Z-score pada perusahaan manufaktur yang sudah go public yang akan diteliti maka model Z-score yang digunakan adalah dengan persamaan:
Z = 1.2X1 + 1.4X2 + 3.3X3 + 0.6X4 + 1.0X5
Keterangan:
Z : Overall Indeks (Indeks Keseluruhan)
X1 : Working Capital to Total Assets Ratio (Modal Kerja/Total Aktiva)
X2 : Rentained Earnings in Total Assets (Laba Ditahan/Total Aktiva)
X3 : Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aktiva)
X4: Market Value of Equity to Book Value of Liabilities (Nilai Pasar Modal Sendiri/Nilai Buku Hutang)
X5 : Sales to Total Assets (Penjualan/Total Aktiva)
Dengan nilai cutt-off:
z-score < 1,10 : Menunjukan indikasi perusahaan menghadapi ancaman kebangkrutan yang serius.
1.10 < z score < 2.60 : Menunjukan bahwa perusahaan barada dalam kondisi rawan. Dalam kondisi ini manajemen harus hati-hati mengelola aset-aset perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan (Grey Area).
2.60 < z score : Menunjukan perusahaan dalam kondisi keuangan yang sehat dan tidak mempunyai masalah keuangan.
Tampilkan postingan dengan label Riset Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riset Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Juni 2010
Senin, 17 Mei 2010
Mandiri Siap Jadi 'Top 5' di ASEAN

Setelah sukses merampungkan program transformasi tahap pertama (2005-2009) dengan pencapaian laba bersih Rp 7,2 triliun pada 2009, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyiapkan diri untuk menjalankan transformasi berikutnya, mulai 2010-2014. Bank Mandiri menyiapkan diri untuk menjadi top 5 di ASEAN pada 2014," kata Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) perseroan di Jakarta. Manajemen Bank Mandiri berharap mampu menjadi institusi keuangan Indonesia yang dikagumi dan selalu progresif. "Bank Mandiri siap untuk tumbuh lebih besar pada 2010, serta menyiapkan diri untuk penerapan berbagai peraturan yang akan membutuhkan penguatan modal. Selain itu, pemegang saham menyetujui penambahan saham pada PT AXA Mandiri melalui pembelian dua persen dari jumlah seluruh saham milik Nasional Mutual International Pty Ltd di PT AXA Mandiri Financial Services.
Ulasan :
Kabar yang sangat baik sekali, bank Mandiri akan menjadi top 5 di ASEAN, hal ini akan mengharumkan nama Indonesia,semoga hal ini dapat memacu semangat bank-bank lainnya untuk terus berkembang..
Sumber : http://bisnis.vivanews.com/news/read/151601-mandiri_siap_jadi__top_5__di_asean
Minggu, 16 Mei 2010
Krisis Eropa Pukul Bursa Indonesia
indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengawali transaksinya dengan pergerakan negatif. Menurut tim riset PT Mega Capital Indonesia dalam ulasannya hari ini, sentimen negatif dari krisis di Eropa dan pergerakan bursa global maupun regional diperkirakan menjadi pemicu pelemahan IHSG.
Namun, sekuritas itu mengaku jika indeks melemah signifikan, diperkirakan akan dimanfaatkan investor dengan horizon investasi jangka panjang untuk mengakumulasi saham berfundamental bagus.
Mega Capital memproyeksikan, indeks Senin, 17 Mei 2010, bergerak pada batas bawah (support) 2.775/2.700 dan batas atas (resistance) 2.905/2.950.Pada awal perdagangan, IHSG terkoreksi 31,77 poin (1,11 persen) ke level 2.826,61. Melanjutkan prapembukaan (pre-opening) tadi, yang turun Rp 30,77 poin atau 1,08 persen di posisi 2.827,62.
Ulasan :
Keadaan perekonomian di Eropa mempengaruhi kondisi saham di Indonesia,sehingga jika di Eropa sedang mengalami Krisis ekonomi maka berdampak negatif juga bagi Indonesia,seharusnya negara kita harus dapat lebih kuat dan mandiri dalam bidang perekonomiannya..
sumber : http://bisnis.vivanews.com/news/read/151410-krisis_eropa_pukul_ihsg
Namun, sekuritas itu mengaku jika indeks melemah signifikan, diperkirakan akan dimanfaatkan investor dengan horizon investasi jangka panjang untuk mengakumulasi saham berfundamental bagus.
Mega Capital memproyeksikan, indeks Senin, 17 Mei 2010, bergerak pada batas bawah (support) 2.775/2.700 dan batas atas (resistance) 2.905/2.950.Pada awal perdagangan, IHSG terkoreksi 31,77 poin (1,11 persen) ke level 2.826,61. Melanjutkan prapembukaan (pre-opening) tadi, yang turun Rp 30,77 poin atau 1,08 persen di posisi 2.827,62.
Ulasan :
Keadaan perekonomian di Eropa mempengaruhi kondisi saham di Indonesia,sehingga jika di Eropa sedang mengalami Krisis ekonomi maka berdampak negatif juga bagi Indonesia,seharusnya negara kita harus dapat lebih kuat dan mandiri dalam bidang perekonomiannya..
sumber : http://bisnis.vivanews.com/news/read/151410-krisis_eropa_pukul_ihsg
Cara Mengisi SPT Pajak
Pada 31 Maret 2010 ini adalah batas waktu terakhir bagi wajib pajak pribadi untuk menyerahkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak penghasilan (PPh). Jutaan wajib pajak akan menyerbu kantor pelayanan pajak untuk menyerahkan SPT.
SPT PPh adalah formulir yang harus diisi oleh Wajib Pajak untuk melaporkan kewajiban perpajakan. Untuk bisa mengisi atau menyampaikan SPT, wajib pajak harus memiliki NPWP. NPWP ini diibaratkan sebagai identitas pribadi Wajib Pajak. Untuk mendapatkan NPWP ini caranya cukup dengan menyerahkan KTP bagi Penduduk Indonesia dan Paspor bagi Warga Negara Asing.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengisi SPT:
1. Perhatikan beberapa catatan lain terlebih dahulu sebelum mengisi formulir lampiran.
2. Wajib Pajak harus memperhatikan jenis formulir yang diberikan.
3. Pada dasarnya ketiga formulir itu hampir sama dalam format dan tata cara pengisian.
4. Ketahui Penghasilan Kena Pajak
5. Perhatikan Penghasilan Tidak Kena Pajak
6. Tambahan Tarif Lain
ulasan :
Sebagai warga negara yang baik, semua wajib pajak harus membayar kewajibannya secara sadar dan penuh tanggung jawab.Sistem pemungutan pajak yang berlaku di Indonesia adalah Self Assisment System,,dimana wajib pajak melaporkan dan menghitung sendiri jumlah pajak yang harus disetorkan.
sumber :http://bisnis.vivanews.com/news/read/138298-bagaimana_cara_mengisi_spt_pajak
SPT PPh adalah formulir yang harus diisi oleh Wajib Pajak untuk melaporkan kewajiban perpajakan. Untuk bisa mengisi atau menyampaikan SPT, wajib pajak harus memiliki NPWP. NPWP ini diibaratkan sebagai identitas pribadi Wajib Pajak. Untuk mendapatkan NPWP ini caranya cukup dengan menyerahkan KTP bagi Penduduk Indonesia dan Paspor bagi Warga Negara Asing.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengisi SPT:
1. Perhatikan beberapa catatan lain terlebih dahulu sebelum mengisi formulir lampiran.
2. Wajib Pajak harus memperhatikan jenis formulir yang diberikan.
3. Pada dasarnya ketiga formulir itu hampir sama dalam format dan tata cara pengisian.
4. Ketahui Penghasilan Kena Pajak
5. Perhatikan Penghasilan Tidak Kena Pajak
6. Tambahan Tarif Lain
ulasan :
Sebagai warga negara yang baik, semua wajib pajak harus membayar kewajibannya secara sadar dan penuh tanggung jawab.Sistem pemungutan pajak yang berlaku di Indonesia adalah Self Assisment System,,dimana wajib pajak melaporkan dan menghitung sendiri jumlah pajak yang harus disetorkan.
sumber :http://bisnis.vivanews.com/news/read/138298-bagaimana_cara_mengisi_spt_pajak
Sabtu, 08 Mei 2010
Nilai Rupiah Menurun
Nilai tukar rupiah mengalami penurunan tajam terhadap dolar AS. Mata uang lokal ini mengalami penurunan tajam seiring dengan amblesnya bursa saham lokal di tengah pelepasan portofolio yang dilakukan para investor.
Nilai tukar rupiah kembali ambles di atas level Rp9.110 per USD. Pelemahan ini setali tiga uang dengan anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG).
Kabar disetujuinya Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjadi Direktur Bank Dunia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), membuat pasar finansial porak-poranda. IHSG pun terjun bebas 112 poin.
Rupiah, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) sore ini ditutup malah menguat ke posisi Rp9.053 per USD, dibandingkan pada pembukaan pagi tadi di Rp9.062 per USD. Penguatan yang terjadi ini disebabkan masih terjadinya intervensi Bank Indonesia ke pasar uang, walau hal itu sulit dibuktikan.
Sementara berdasarkan yahoofinance mencatat pergerakan yang berbeda. Posisi rupiah ambles ke posisi Rp9.117 per USD, di mana kisaran perdagangan rupiah pada rentang Rp9.011-Rp9.035 per USD. Investor di pasar finansial hari ini dilanda kepanikan. Hal itu ditunjukan dengan melepas portofolionya di Tanah Air.
Ulasan :
Nilai tukar rupiah sedang tidak stabil,mengapa hal itu bisa terjadi?padahal beberapa bulan lalu rupiah mangalami kenaikan yang cukup bagus, seharusnya para wakil rakyat harus dapat mempertahankan kondisi tersebut dan membawa negara ini menjadi lebih baik.
sumber : http://www.vibiznews.com/news.php?id=3370&sub=news&page=economy
Nilai tukar rupiah kembali ambles di atas level Rp9.110 per USD. Pelemahan ini setali tiga uang dengan anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG).
Kabar disetujuinya Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjadi Direktur Bank Dunia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), membuat pasar finansial porak-poranda. IHSG pun terjun bebas 112 poin.
Rupiah, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) sore ini ditutup malah menguat ke posisi Rp9.053 per USD, dibandingkan pada pembukaan pagi tadi di Rp9.062 per USD. Penguatan yang terjadi ini disebabkan masih terjadinya intervensi Bank Indonesia ke pasar uang, walau hal itu sulit dibuktikan.
Sementara berdasarkan yahoofinance mencatat pergerakan yang berbeda. Posisi rupiah ambles ke posisi Rp9.117 per USD, di mana kisaran perdagangan rupiah pada rentang Rp9.011-Rp9.035 per USD. Investor di pasar finansial hari ini dilanda kepanikan. Hal itu ditunjukan dengan melepas portofolionya di Tanah Air.
Ulasan :
Nilai tukar rupiah sedang tidak stabil,mengapa hal itu bisa terjadi?padahal beberapa bulan lalu rupiah mangalami kenaikan yang cukup bagus, seharusnya para wakil rakyat harus dapat mempertahankan kondisi tersebut dan membawa negara ini menjadi lebih baik.
sumber : http://www.vibiznews.com/news.php?id=3370&sub=news&page=economy
Selasa, 20 April 2010
Index Saham BEI Menguat

Saham-saham kapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada perdagangan Selasa, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound setelah dua hari perdagangan sebelumnya melemah.
Aksi ambil untung pada Jumat pekan lalu dan Senin kemarin sudah mencapai klimaksnya, dan investor kembali mengambil posisi beli dipicu berita positif sejumlah emiten, serta berbagai ekspektasi positif pasar terhadap prospek beberapa hari ke depan, kata sejumlah broker di Jakarta.
Analis di sebuah perusahaan sekuritas mengatakan, meredanya pengaruh buruk kasus Goldman Sachs dan menguatnya sejumlah indeks di bursa dunia dan regional juga telah membantu menguatnya aksi beli hari ini.
Sementara melemahnya rupiah 35 poin ke posisi 9.005 per dolar AS, bukan sepenuhnya dinilai buruk oleh pelaku pasar karena mereka memang menginginkan rupiah berada pada kisaran 9.000 per dolar AS sebagaimana dikehendasi kalangan eksportir.
Ulasan :
Seharusnya menguatnya index saham BEI harus diimbangi dengan menguatnya nilai tukar rupiah, namun yang terjadi sebaliknya harga nilai tukar rupiah menurun beberapa poin,hal tersebut sangat disayangkan. Semoga Rupiah dapat terus menguat melebihi nilai mata uang asing lainnya...
sumber :http://www.antaranews.com/berita/1271759098/indeks-bei-rebound
Pemerintah Akan Lelang SUN
Kamis, 15 April 2010 17:05 WIB
(Vibiznews – Bonds & Mutual) - Pemerintah kembali akan melakukan lelang 4 seri Surat Utang negara (SUN) bernilai Rp 5 triliun yang akan dilakukan pada 20 April 2010. Demikian disampaikan oleh Kabiro Humas Kemenkeu Harry Z. Soeratin dalam siaran pers, Kamis (15/4/2010).
"Jumlah indikatif SUN yang dilelang sebesar Rp 5 triliun, hal ini untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2010. Surat Utang Negara yang akan dilelang mempunyai nominal per unit sebesar Rp 1 juta," ujarnya.
Adapun 4 seri SUN yang akan dilelang adalah:
- SPN20110407, jatuh tempo 7 April 2011
- FR0027 dengan tingkat bunga tetap 11% dan jatuh tempo 15 September 2015
- FR0040 dengan tingkat bunga tetap 11% dan jatuh tempo 15 September 2025
- FR0047 dengan tingkat bunga tetap 10% dan jatuh tempo 15 Februari 2028
Ulasan:
Karena Terlalu besaarnya anggaran pendapatan belanja negara sehingga pemerintah merasa perlu untuk menjual surat utangnya,namun menurut saya anggaran untuk tiap daerah belum merata dan rakyat kecil msi membutuhkan banyak uluran tangan pemerintah. seharusnya pemerintah dapat mengimbangi antara pendapatan dan biaya pengeluaran..
(Vibiznews – Bonds & Mutual) - Pemerintah kembali akan melakukan lelang 4 seri Surat Utang negara (SUN) bernilai Rp 5 triliun yang akan dilakukan pada 20 April 2010. Demikian disampaikan oleh Kabiro Humas Kemenkeu Harry Z. Soeratin dalam siaran pers, Kamis (15/4/2010).
"Jumlah indikatif SUN yang dilelang sebesar Rp 5 triliun, hal ini untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2010. Surat Utang Negara yang akan dilelang mempunyai nominal per unit sebesar Rp 1 juta," ujarnya.
Adapun 4 seri SUN yang akan dilelang adalah:
- SPN20110407, jatuh tempo 7 April 2011
- FR0027 dengan tingkat bunga tetap 11% dan jatuh tempo 15 September 2015
- FR0040 dengan tingkat bunga tetap 11% dan jatuh tempo 15 September 2025
- FR0047 dengan tingkat bunga tetap 10% dan jatuh tempo 15 Februari 2028
Ulasan:
Karena Terlalu besaarnya anggaran pendapatan belanja negara sehingga pemerintah merasa perlu untuk menjual surat utangnya,namun menurut saya anggaran untuk tiap daerah belum merata dan rakyat kecil msi membutuhkan banyak uluran tangan pemerintah. seharusnya pemerintah dapat mengimbangi antara pendapatan dan biaya pengeluaran..
Minggu, 18 April 2010
Diawali dari Dapur Rumah Menuju Pasar Ekspor Dunia

Kerja keras, ketekunan, dan tak mudah putus asa. Inilah prinsip pemilik CV Markisa Cemerlang, Chairul A Halim, dalam membesarkan usaha pengolahan buah markisa menjadi sari markisa maupun pulp.
Hasilnya sangat mengagumkan. Kendati masih menggunakan dapur dan pekarangan belakang rumah sebagai lokasi usaha, produknya telah mampu menembus pasar ekspor di Asia, Australia, hingga Eropa. Dia pun berhasil meraih berbagai penghargaan, mulai dari tingkat lokal hingga nasional, di antaranya penghargaan upakarti dalam hal gugus kendali mutu produk dari Presiden RI.
Usaha pengolahan buah markisa mulai dijalankan Chairul 1996 silam dengan modal awal sekira Rp5 juta dan tenaga kerjanya istri dan anak-anaknya. Prosesnya produksinya pun sangat sederhana, hanya menggunakan pisau dan sendok sebagai alat pengeruk buah markisa.
Chairul berangan bisa mengembangkan usahanya, terutama menembus pasar ekspor. Untuk mewujudkan angan tersebut, dia berharap, Pemerintah Sulawesi Selatan mendukung pengembangan budi daya markisa dan promosi.
Ulasan:
Semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam segala hal, tergantung dari usaha orang tersebut untuk berusaha meraih kesempatan itu,jika seseorang memiliki semangat kerja keras yang tinggi pasti dapat memcapai hasil yang tinggi juga.
jadi usaha dalam bidang apa saja jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh pasti akan berhasil.
DPR versus Menkeu
Masalah kerja sama antara pemerintah dan DPR sangat substansial lantaran masalah ini menyangkut efektivitas kerja birokrat, baik di tingkat pusat maupun daerah. Peran eksekutif dan legislatif perlu diletakkan dalam perspektif kepentingan nasional yang lebih luas sehingga tidak perlu terkotak-kotak di antara kepentingan keduanya. Eksekutif dan legislatif bisa saling melengkapi demi mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Persoalan RAPBN tidak hanya menyangkut kepentingan pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Komisi XI DPR.RAPBN berdampak cukup luas kepada nasib seluruh rakyat Indonesia. Penyesuaian (adjustment) asumsi-asumsi yang melatarbelakangi APBN perlu dilakukan demi mewujudkan anggaran yang sehat dan adaptif dengan berbagai perubahanekonomiglobaldannasional.
Kita mengetahui secara persis bahwa ekonomi nasional sangat dipengaruhi tidak hanya faktorfaktor domestik.Turbulensi di tataran regional dan global seperti kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak langsung terhadap beban anggaran nasional sehingga dibutuhkan kecepatan untuk mengantisipasi setiap unexpected-event. Keharmonisan antara pemerintah dan DPR adalah prasyarat bagi tercapainya hubungan antarinstitusi yang efektif.
Institusi yang dapat membuat keputusan dengan efektif dalam menghadapi situasi normal maupun dalam krisis akan menentukan efektivitas implementasi belanja pemerintah (government expenditure). Tanpa ada kejelasan hubungan kerja yang efektif ini, usaha untuk merencanakan berbagai praktik yang dapat meningkatkan efisiensi institusi dan birokrasi di Indonesia sulit direalisasikan.
Ulasan:
sebaiknya Ketegangan antara pemerintah, dalam hal ini menteri keuangan dengan DPR, perlu dicairkan demi mengurangi dampak sistemik terhadap persoalan ini.Tertundanya pembahasan RAPBN-P akibat ketegangan antara menteri keuangan dan Komisi XI DPR bisa memperburuk daya saing nasional. Investor,pengusaha,dan beberapa proyek pemerintah berpotensi terganggu yang nantinya justru akan merugikan kepentingan nasional yang lebih besar.
sumber: http://economy.okezone.com/read/2010/04/14/279/322426/dpr-versus-menkeu
Persoalan RAPBN tidak hanya menyangkut kepentingan pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Komisi XI DPR.RAPBN berdampak cukup luas kepada nasib seluruh rakyat Indonesia. Penyesuaian (adjustment) asumsi-asumsi yang melatarbelakangi APBN perlu dilakukan demi mewujudkan anggaran yang sehat dan adaptif dengan berbagai perubahanekonomiglobaldannasional.
Kita mengetahui secara persis bahwa ekonomi nasional sangat dipengaruhi tidak hanya faktorfaktor domestik.Turbulensi di tataran regional dan global seperti kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak langsung terhadap beban anggaran nasional sehingga dibutuhkan kecepatan untuk mengantisipasi setiap unexpected-event. Keharmonisan antara pemerintah dan DPR adalah prasyarat bagi tercapainya hubungan antarinstitusi yang efektif.
Institusi yang dapat membuat keputusan dengan efektif dalam menghadapi situasi normal maupun dalam krisis akan menentukan efektivitas implementasi belanja pemerintah (government expenditure). Tanpa ada kejelasan hubungan kerja yang efektif ini, usaha untuk merencanakan berbagai praktik yang dapat meningkatkan efisiensi institusi dan birokrasi di Indonesia sulit direalisasikan.
Ulasan:
sebaiknya Ketegangan antara pemerintah, dalam hal ini menteri keuangan dengan DPR, perlu dicairkan demi mengurangi dampak sistemik terhadap persoalan ini.Tertundanya pembahasan RAPBN-P akibat ketegangan antara menteri keuangan dan Komisi XI DPR bisa memperburuk daya saing nasional. Investor,pengusaha,dan beberapa proyek pemerintah berpotensi terganggu yang nantinya justru akan merugikan kepentingan nasional yang lebih besar.
sumber: http://economy.okezone.com/read/2010/04/14/279/322426/dpr-versus-menkeu
Belajar Berbisnis

Banyak cara dilakukan orang untuk melestarikan budaya daerahnya. Lebih hebat lagi, seorang pengusaha kreatif dari Palembang mampu melakukan itu sambil mengembangkan bisnis busana yang digelutinya.
Adalah Yoki Firmansyah, sang pengusaha kreatif yang memulai bisnis kaus oblong bebaso Plembang (berbahasa Palembang) itu. Jika Bali memiliki kaus khas Joger yang sukses dengan “pabrik katakatanya”, maka Yoki memikat kawula muda Palembang dengan kaus bertuliskan kelakar khas wong kito dengan merek Palimo T-Shirt dan Kaus Nyenyes Palembang.
Menurut dia, konsep kaus kreatif itu diambilnya karena selama ini kaus oblong yang ditawarkan di Palembang masih terkesan sangat kaku. Padahal, kata dia, orang Palembang dalam kesehariannya justru amat senang saling berkelakar satu sama lain.
Kelakar, kata dia, bisa dibilang telah membudaya di masyarakat Sumatera Selatan. Hal itulah yang kemudian menimbulkan ide dalam benaknya untuk mengonsep kaus dengan kata-kata kelakar berbahasa Palembang tersebut.
Ide tersebut kemudian direalisasikannya dengan menguras tabungan senilai Rp20 juta yang dimilikinya dari berbagai bisnis kecil-kecilan yang telah digelutinya selama ini. Namun, modal Rp20 juta itu dinilainya masih belum cukup sehingga Yoki lalu mencari pinjaman pada sanak saudaranya sehingga akhirnya total modal terkumpul mencapai Rp50 juta.
Awalnya, bahan baku kaus oblong diperolehnya dari Bandung. Sementara desain dibuatnya sendiri, yang awalnya hanya terbatas 10 desain saja. Menurut Yoki, upaya perkenalan produknya dilakukan dengan mengikuti Pekan Nasional KTNA di daerah Banyuasin. Upaya tersebut berhasil, produk awalnya yang menggunakan merek Palimo T-Shirt ini ternyata diminati pengunjung Pekan Nasional KTNA.
Bisnis kaus oblongnya makin melejit ketika dipublikasikan media cetak lokal. Tawaran mulai berdatangan untuk mengisi sejumlah toko di Palembang. “Nah, mulai dari sinilah saya putuskan untuk lebih berkonsentrasi menjual kaus oblong khas bebaso Plembangini,” katanya.
Jika dulu semua desain dikerjakannya sendiri, kini Yoki telah memiliki karyawan khusus untuk bidang ini. Selain itu, dia pun mampu menggaji karyawan untuk bidang produksi dan pemasaran.
Selasa, 13 April 2010
Saham Grup Bakrie Lesu

Saham dari kelompok bisnis Bakrie terpantau melemah pada perdagangan Selasa (13/4). Namun, bagi investor masih ada peluang untuk investasi jangka panjang.
Demikian diungkapkan Janson Nasrial, analis AmCapital Indonesia kepada INILAH.COM. Menurutnya, saham grup Bakrie tidak mampu mengangkat pergerakan indeks hari ini. “Sebab, valuasi indeks saat ini sudah sangat mahal dan berada di level price earning ratio 21 kali,” ucapnya.
Namun, untuk jangka panjang, Janson melihat ada peluang penguatan pada saham grup ini. Salah satunya saham PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) yang didukung pertumbuhan penjualan karet 2010 mencapai 7-10%. “Valuasi UNSP tahun ini berada di Rp600-660 dengan earning price per share (EPS) di Rp25 dari level harga saat ini.
ulasan : Mungkin hal ini terjadi karena semakin ketatnya persaingan atar perusahaan,sehingga index sahamnya tidak stabil dan mengalami pasang surut.
sumber :http://www.inilah.com/news/read/ekonomi/2010/04/13/458241/saham-grup-bakrie-lesu/
Nilai Tukar Rupiah Stabil
http://www.detikfinance.com/images/content/2010/04/13/6/rupiah-lih-dalam.JPG
Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan stabil di kisaran 9.000-an per dollar AS selama tahun 2010.
"Kita perlu mencermati tekanan impor dan exit strategy di negara-negara maju namun kita berpandangan pada tahun 2010 nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan berada di posisi 9.000-10.000 dengan mid poin 9.000 per dollar AS masih sangat realistis," ujar Pjs Gubernur BI Darmin Nasution dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR-RI di Gedung DPR-RI.
Darmin menambahkan, nilai tukar rupiah selama triwulan I-2010 rata-rata berada dikisaran 9.254 per dollar AS. "Walaupun memang sempat menembus 9.050 namun kita menganggap masih pas dengan kondisi domestik," tuturnya.
Untuk pertumbuhan ekonomi, Bank Sentral memproyeksikan pada tahun 2010 akan mencapai 5,7%. "Dimana akan ditopang oleh perbaikann kinerja ekspor, konsumsi rumah tangga dan investasi," ungkapnya.
Ia memaparkan, konsumsi rumah tangga akan tumbuh sebesar 4,8% di tahun 2010. Sedangkan untuk investasi, lanjut Darmin akan tumbuh mencapai 9%. "Sehingga, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar antara 5,5% sampai dengan 6% di tahun 2010
Ulasan : perekonomian indonesia berkembang pesat dalam segala hal, semoga semua rakyat Indonesia dapat merasakan dampak dari perkembangan tersebut, terutama dalam tingkat kesejahteraan rakyat kecil.
sumber : http://www.detikfinance.com/read/2010/04/13/165346/1337578/6/bi-proyeksikan-rupiah-stabil-di-9000-us-
Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan stabil di kisaran 9.000-an per dollar AS selama tahun 2010.
"Kita perlu mencermati tekanan impor dan exit strategy di negara-negara maju namun kita berpandangan pada tahun 2010 nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan berada di posisi 9.000-10.000 dengan mid poin 9.000 per dollar AS masih sangat realistis," ujar Pjs Gubernur BI Darmin Nasution dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR-RI di Gedung DPR-RI.
Darmin menambahkan, nilai tukar rupiah selama triwulan I-2010 rata-rata berada dikisaran 9.254 per dollar AS. "Walaupun memang sempat menembus 9.050 namun kita menganggap masih pas dengan kondisi domestik," tuturnya.
Untuk pertumbuhan ekonomi, Bank Sentral memproyeksikan pada tahun 2010 akan mencapai 5,7%. "Dimana akan ditopang oleh perbaikann kinerja ekspor, konsumsi rumah tangga dan investasi," ungkapnya.
Ia memaparkan, konsumsi rumah tangga akan tumbuh sebesar 4,8% di tahun 2010. Sedangkan untuk investasi, lanjut Darmin akan tumbuh mencapai 9%. "Sehingga, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar antara 5,5% sampai dengan 6% di tahun 2010
Ulasan : perekonomian indonesia berkembang pesat dalam segala hal, semoga semua rakyat Indonesia dapat merasakan dampak dari perkembangan tersebut, terutama dalam tingkat kesejahteraan rakyat kecil.
sumber : http://www.detikfinance.com/read/2010/04/13/165346/1337578/6/bi-proyeksikan-rupiah-stabil-di-9000-us-
Obligasi 2010 Berkembang Pesat
Penerbitan obligasi korporasi tahun 2010 diprediksi bakal meningkat menjadi Rp 40 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 30 triliun. Peningkatan terutama didorong oleh semakin membaiknya peringkat investasi Indonesia. Obligasi korporasi dapat mencapai Rp 40 triliun, sedangkan tahun lalu sekitar Rp 30 triliunan.
Kondisi ekonomi Indonesia akan semakin stabil pada tahun 2010. Hal ini menjadikan pasar obligasi akan semakin tumbuh. Apalagi, peringkat Indonesia dalam berinvestasi sudah membaik, setingkat lagi untuk mencapai level investment grade.
Sepanjang tahun 2010 diperkirakan banyak perseroan yang menerbitkan obligasi dengan tenor singkat, atau hanya 12 bulan. Tenor ini merupakan bentuk Capital Protective Fund dengan penawaran yield yang cukup menarik.
Sepanjang 2009, penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp 30,112 triliun, meningkat drastis 160,52% dari tahun 2008. Obligasi senilai Rp 11,489 triliun diantaranya terbit di triwulan IV-2009.
Ulasan :
Kondisi perekonomia Indonesia di tahun ini berkembang dengan baik,walaupun rakyat kecil belum bisa merasakan manfaatnya,namun pemerintah dapar mengatur jalannya perekonomian dengan baik, terutama dalam bidang investasi.
sumber : http://www.detikfinance.com/read/2010/04/13/171134/1337594/6/obligasi-korporasi-bakal-tembus-rp-40-triliun-di-2010
Kondisi ekonomi Indonesia akan semakin stabil pada tahun 2010. Hal ini menjadikan pasar obligasi akan semakin tumbuh. Apalagi, peringkat Indonesia dalam berinvestasi sudah membaik, setingkat lagi untuk mencapai level investment grade.
Sepanjang tahun 2010 diperkirakan banyak perseroan yang menerbitkan obligasi dengan tenor singkat, atau hanya 12 bulan. Tenor ini merupakan bentuk Capital Protective Fund dengan penawaran yield yang cukup menarik.
Sepanjang 2009, penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp 30,112 triliun, meningkat drastis 160,52% dari tahun 2008. Obligasi senilai Rp 11,489 triliun diantaranya terbit di triwulan IV-2009.
Ulasan :
Kondisi perekonomia Indonesia di tahun ini berkembang dengan baik,walaupun rakyat kecil belum bisa merasakan manfaatnya,namun pemerintah dapar mengatur jalannya perekonomian dengan baik, terutama dalam bidang investasi.
sumber : http://www.detikfinance.com/read/2010/04/13/171134/1337594/6/obligasi-korporasi-bakal-tembus-rp-40-triliun-di-2010
Kamis, 08 April 2010
Metode Riset
Salah satu komponen riset adalah penggunaan metode yang ilmiah. Metode riset dapat dibagi atas :
1.Penelitian Dasar atau Murni
Jenis penelitian ini bertujuan untuk pengujian atau untuk membentuk teori baru yang bukan untuk menerapkan hasil-hsail temuannya.
2.Penelitian Terapan atau Pengembangan
Jenis penelitian ini menerapkan teori dalam rangka memecahkan suatu masalah dan melakukan pengujian teori untuk menilai kegunaan teori itu sendiri.
Metode Sejarah
Riset sejarah menghendaki data yang bersumber dari data primer yaitu dokumen dan peninggalan. Pusat perhatian penelitian sejarah diarahkan pada masalah mekanis dokumentasi, masalh logis pemilihan, dan penyusunan topik, dan masalah filosofi penafsirannya.
Metode Deskriptif
Metode ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pasa saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu. Metode ini juga memberikan informasi yang mutakhir, sehingga bermanfaat bagi perkembangan IPTEK.
Menurut Consuelo, riset dengan metode deskriptif terdiri dari beberapa macam, yaitu:
•Studi Kasus
•Survei
•Riset Pengembangan
- Metode Longitudinal: mempelajari sampel peserta pada jangka waktu yang panjang,
-Metode sross-sectional: mempelajari sampel dari berbagai strata pada waktu bersamaan.
• Riset Lanjutan
• Riset Dokumen
• Riset Kecenderungan
• Riset Korelasi
Jadi, pemilihan metode riset tergantung pada jenis penelitian yang akan di ambil oleh penelitinya, setiap metode memiliki proses yang berbeda-beda tergantung dari jenis metodenya.
1.Penelitian Dasar atau Murni
Jenis penelitian ini bertujuan untuk pengujian atau untuk membentuk teori baru yang bukan untuk menerapkan hasil-hsail temuannya.
2.Penelitian Terapan atau Pengembangan
Jenis penelitian ini menerapkan teori dalam rangka memecahkan suatu masalah dan melakukan pengujian teori untuk menilai kegunaan teori itu sendiri.
Metode Sejarah
Riset sejarah menghendaki data yang bersumber dari data primer yaitu dokumen dan peninggalan. Pusat perhatian penelitian sejarah diarahkan pada masalah mekanis dokumentasi, masalh logis pemilihan, dan penyusunan topik, dan masalah filosofi penafsirannya.
Metode Deskriptif
Metode ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pasa saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu. Metode ini juga memberikan informasi yang mutakhir, sehingga bermanfaat bagi perkembangan IPTEK.
Menurut Consuelo, riset dengan metode deskriptif terdiri dari beberapa macam, yaitu:
•Studi Kasus
•Survei
•Riset Pengembangan
- Metode Longitudinal: mempelajari sampel peserta pada jangka waktu yang panjang,
-Metode sross-sectional: mempelajari sampel dari berbagai strata pada waktu bersamaan.
• Riset Lanjutan
• Riset Dokumen
• Riset Kecenderungan
• Riset Korelasi
Jadi, pemilihan metode riset tergantung pada jenis penelitian yang akan di ambil oleh penelitinya, setiap metode memiliki proses yang berbeda-beda tergantung dari jenis metodenya.
Rabu, 07 April 2010
Latar Belakang Penulisan Ilmiah
Dalam penulisan ilmiah ini saya mengambil materi mengenai prediksi potensi kebangkrutan suatu perusahaan. Sebuah perusahaan didirikan dengan tujuan untuk dapat melakukan bisnis dan terus berkekembang serta dapat menghasilkan profit yang semaksimal mungkin. hal ini sesuai dengan konsep Going Concern yang terdapat dalam konsep dasar teori akuntansi yang mengatakan bahwa perusahaan itu akan hidup terus, dalam arti diharapakan tidak akan terjadi likuidasi di masa yang akan akan
datang. kebangkrutan adalah suatau kondisi dimana seorang debitur sudah tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajibannya atau hutang-hutangnya dan bersedia dinyatakan bangkrut.
dalam penulisan ilmiah ini saya mengambil model penelitian Altman Z-Score, karena teori-teorinya akurat dalam memprediksi tingkat kebangkrutan perusahaan.
Sedangkan objek penelitian yang saya pilih adalah PT Wijaya Karya karena perusahaan tersebut tergoong dalam perusahaan milik BUMN yanh telah go publik.
Prediksi kebangkrutan berfungsi untuk memberikan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan apakah akan mengalami kesulitan keuangan dimasa yang akan datang atau tidak, manfaatnya bagi pemilik perusahaan ialah digunakan untuk mengambil keputusan apakah ia akan tetap mempertahankan kepemilikannya atau akan menjualnya dan menanamkan modalnya di perusahaan lain, dan bagi investor manfaatnya adalah sebagai bahan pertimbangan dalam berinvestasi dalam suatu perusahaan.
datang. kebangkrutan adalah suatau kondisi dimana seorang debitur sudah tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajibannya atau hutang-hutangnya dan bersedia dinyatakan bangkrut.
dalam penulisan ilmiah ini saya mengambil model penelitian Altman Z-Score, karena teori-teorinya akurat dalam memprediksi tingkat kebangkrutan perusahaan.
Sedangkan objek penelitian yang saya pilih adalah PT Wijaya Karya karena perusahaan tersebut tergoong dalam perusahaan milik BUMN yanh telah go publik.
Prediksi kebangkrutan berfungsi untuk memberikan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan apakah akan mengalami kesulitan keuangan dimasa yang akan datang atau tidak, manfaatnya bagi pemilik perusahaan ialah digunakan untuk mengambil keputusan apakah ia akan tetap mempertahankan kepemilikannya atau akan menjualnya dan menanamkan modalnya di perusahaan lain, dan bagi investor manfaatnya adalah sebagai bahan pertimbangan dalam berinvestasi dalam suatu perusahaan.
Minggu, 28 Februari 2010
TIPOLOGI DATA
Data diartikan sebagai suatu fakta yang digambarkan lewat angka, simbol, kode, dll. Berikut ini pengelompokan data disesuaikan pengelompokan data sesuai karakteristiknya:
A. Data Primer dan Sekunder
Dat primer merupakan data yang di dapat dari sumber pertama baik dari individu seperti hasil wawancara, atau hasil pengisian kuesioner yang biasa di lakukan peneliti. Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau pihak lain misalnya dalam bentuk tabel atau daigram.
B. Data Internal dan Eksternal
Data internal merupakan data yang di dapat dari dalam perusahaan atau organisasi dimana riset dilakukan. Misalnya bila periset akan meneliti perkembangan usaha suatu produk tertentu, ia dapat mencari data dari perusahaan yang bersangkutan. Jika ia mendapatkannya dari luar perusahaan itu , misalnya dari biro pusat statistik, maka data itu disebut data sekunder.
C. Data Time Series dan Cross Section
Data time series atau disebut juga data deret waktu merupakan sekumpulan data dari suatu fenomena tertentu yang di dapat dalam beberapa interval waktu tertentu, misalnya dalam waktu mingguan, bulanan, atau tahunan.
Sedangkan data cross section atau sering disebut data satuan waktu adalah sekumpulan data untuk meneliti suatu fenomena tertentu dalam waktu satu kurun waktu saja.
D. Data dengan Variabel Bebas (Independen) dan Variabel Terikat (Dependen)
Jika dalam suatu fenomena ada data yang dikelompokan dalam variabel yang saling berhubungan dengan data yang ada pada variabel lain, variabel yang bergantung pada variabel lain disebut variabel terikat. Sedangkan Variabel yang tidak bergantung pada variabel lain disebut variabel bebas atau independent.
E. Data Berskala
Skala merupakan suatu prosedur pemberian angka atau simbol lain kepada sejumlah ciri suatu objek agar dapat menyatakan karakteristik angka pada ciri tersebut. Skala pengukuran terdiri atas 4 macam, yaitu skala Nominal, skala Ordinal, skala Interval dan skala Rasio.
1. Skala Nominaladalah skala yang paling sederhana dimana angka yang di berikan kepada suatu kategori yidak menggambarkan kedudukan kategori tersebut terhadap kategori lainnya,tetapi hanya sekedar kode atau label.
2. Skala Ordinal
Skala ini mengurutkan data dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi atau sebaliknya, dengan interval yang tidak harus sama.
3. Skala Interval
Skala ini mengurutkan suatu objek berdasarkan suatu atribut yang memberikan informasi tentang interval antara satu ibjek dengan objek lainnya adalah sama.
4. Skala Rasio
Skala ini mencakup ketiga skala yang disebutkan diatas, ditambah dengan sifat lain yaitu bahwa ukuran ini mempunyai nilai nol. Karena adanya titik nol inilah maka ukuran rasio dapat dibuat dalam perkalian maupun pembagian. Angka pada skala ini merupakan ukuran yang sebenarnya dari objek yang di ukur.
A. Data Primer dan Sekunder
Dat primer merupakan data yang di dapat dari sumber pertama baik dari individu seperti hasil wawancara, atau hasil pengisian kuesioner yang biasa di lakukan peneliti. Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau pihak lain misalnya dalam bentuk tabel atau daigram.
B. Data Internal dan Eksternal
Data internal merupakan data yang di dapat dari dalam perusahaan atau organisasi dimana riset dilakukan. Misalnya bila periset akan meneliti perkembangan usaha suatu produk tertentu, ia dapat mencari data dari perusahaan yang bersangkutan. Jika ia mendapatkannya dari luar perusahaan itu , misalnya dari biro pusat statistik, maka data itu disebut data sekunder.
C. Data Time Series dan Cross Section
Data time series atau disebut juga data deret waktu merupakan sekumpulan data dari suatu fenomena tertentu yang di dapat dalam beberapa interval waktu tertentu, misalnya dalam waktu mingguan, bulanan, atau tahunan.
Sedangkan data cross section atau sering disebut data satuan waktu adalah sekumpulan data untuk meneliti suatu fenomena tertentu dalam waktu satu kurun waktu saja.
D. Data dengan Variabel Bebas (Independen) dan Variabel Terikat (Dependen)
Jika dalam suatu fenomena ada data yang dikelompokan dalam variabel yang saling berhubungan dengan data yang ada pada variabel lain, variabel yang bergantung pada variabel lain disebut variabel terikat. Sedangkan Variabel yang tidak bergantung pada variabel lain disebut variabel bebas atau independent.
E. Data Berskala
Skala merupakan suatu prosedur pemberian angka atau simbol lain kepada sejumlah ciri suatu objek agar dapat menyatakan karakteristik angka pada ciri tersebut. Skala pengukuran terdiri atas 4 macam, yaitu skala Nominal, skala Ordinal, skala Interval dan skala Rasio.
1. Skala Nominaladalah skala yang paling sederhana dimana angka yang di berikan kepada suatu kategori yidak menggambarkan kedudukan kategori tersebut terhadap kategori lainnya,tetapi hanya sekedar kode atau label.
2. Skala Ordinal
Skala ini mengurutkan data dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi atau sebaliknya, dengan interval yang tidak harus sama.
3. Skala Interval
Skala ini mengurutkan suatu objek berdasarkan suatu atribut yang memberikan informasi tentang interval antara satu ibjek dengan objek lainnya adalah sama.
4. Skala Rasio
Skala ini mencakup ketiga skala yang disebutkan diatas, ditambah dengan sifat lain yaitu bahwa ukuran ini mempunyai nilai nol. Karena adanya titik nol inilah maka ukuran rasio dapat dibuat dalam perkalian maupun pembagian. Angka pada skala ini merupakan ukuran yang sebenarnya dari objek yang di ukur.
Rabu, 24 Februari 2010
Desain Riset
Desain Riset merupakan semua proses yang di perlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian yang ciri-cirinya adalah:
1. Desain dalam Merencanakan Penelitian
Desain ini bertujuan untuk melaksanakan penelitian, sehingga dapat diperoleh suatu logika, baik dalam pengujian hipotesis maupun dalam membuat kesimpulan. Desain juga harus dapat menerjemahkan model-model ilmiah ke dalam penelitian operasional secara praktis.
2. Desain dalam Melaksanakan Penelitian
Menurut Suchman, yang di kutip Natsir (1988), desain dalam pelaksanaan penelitian di bagi atas 4 macam,yaitu:
a. Sampel Desain
Dalam merencanakn pemakain data, diperlukan desain sampling yang representatif, sesuai dengan tujuan penelitian maupun kesimpulan yang akan di ambil.
b. Desain Instrumen
Pada bagian ini saat menjelaskan data, penulis menyajikan bagaimana menevaluasi instrumen pengumpulan data yang baik.
c.Desain Analisis
Jika hipotesis telah di desain dengan baik, maka desain analisis secara paralel dapat dikembangkan.
d. Desain Administrasi
Laporan riset hasil tertulis hendaknya telah di desain sesuai dengan standar yang berlaku umum. Urutan penulisan merupakan penjabaran langkah-langkah riset yang disajikan dalm sub-bagian.
Jenis Desai Riset:
1. Desain Eksploratori
yaitu berusaha mencari ide-ide atau hubunhan-hubungan yang baru sehingga dapat dikatakan bahwa desain ini bertitik tolak dari variabel, bukan dri fakta.
2. Desain Deskriptif
Desain ini bertujuan untuk menguraikan sifat atau karkeristik fenomena tertentu. Penelitian ini kurang memerlukan teorisasi dan hipotesis sehingga dapat bekerja pada satu variabel saja.
3. Desain Kausal
Desain kausal berguna untuk menganalisis hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya.
sifat hubungan yang mungkin terjadi di antara variabel-variabel ini ada tiga,yaitu: simetris, asimetris dan timbal balik. Dikataka simetris jika dua variabel brfuktuasi bersamaan tapi kita menganggap di antara keduanya tidak ada hubungan apa-apa. Hubungan timbal balik terjadi bilamana dua variabel mempengaruhi atau memperkuat satu sama lain. hubungan asimetris adalah hubungan yang terjadi akibat variabel bebas tehadap variabel tidak bebasnya.
1. Desain dalam Merencanakan Penelitian
Desain ini bertujuan untuk melaksanakan penelitian, sehingga dapat diperoleh suatu logika, baik dalam pengujian hipotesis maupun dalam membuat kesimpulan. Desain juga harus dapat menerjemahkan model-model ilmiah ke dalam penelitian operasional secara praktis.
2. Desain dalam Melaksanakan Penelitian
Menurut Suchman, yang di kutip Natsir (1988), desain dalam pelaksanaan penelitian di bagi atas 4 macam,yaitu:
a. Sampel Desain
Dalam merencanakn pemakain data, diperlukan desain sampling yang representatif, sesuai dengan tujuan penelitian maupun kesimpulan yang akan di ambil.
b. Desain Instrumen
Pada bagian ini saat menjelaskan data, penulis menyajikan bagaimana menevaluasi instrumen pengumpulan data yang baik.
c.Desain Analisis
Jika hipotesis telah di desain dengan baik, maka desain analisis secara paralel dapat dikembangkan.
d. Desain Administrasi
Laporan riset hasil tertulis hendaknya telah di desain sesuai dengan standar yang berlaku umum. Urutan penulisan merupakan penjabaran langkah-langkah riset yang disajikan dalm sub-bagian.
Jenis Desai Riset:
1. Desain Eksploratori
yaitu berusaha mencari ide-ide atau hubunhan-hubungan yang baru sehingga dapat dikatakan bahwa desain ini bertitik tolak dari variabel, bukan dri fakta.
2. Desain Deskriptif
Desain ini bertujuan untuk menguraikan sifat atau karkeristik fenomena tertentu. Penelitian ini kurang memerlukan teorisasi dan hipotesis sehingga dapat bekerja pada satu variabel saja.
3. Desain Kausal
Desain kausal berguna untuk menganalisis hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya.
sifat hubungan yang mungkin terjadi di antara variabel-variabel ini ada tiga,yaitu: simetris, asimetris dan timbal balik. Dikataka simetris jika dua variabel brfuktuasi bersamaan tapi kita menganggap di antara keduanya tidak ada hubungan apa-apa. Hubungan timbal balik terjadi bilamana dua variabel mempengaruhi atau memperkuat satu sama lain. hubungan asimetris adalah hubungan yang terjadi akibat variabel bebas tehadap variabel tidak bebasnya.
